Sabtu, 28 Februari 2015

Bubu Kepiting




TEKNIK PENGOPRASIAN ALAT TANGKAP BUBU KEPITING (RAKKANG) DI DESA PANCANA KECAMATAN TANETE RILAU KABUPATEN BARRU
 

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG

OLEH:
HUSNI MUBARAQ
L231 11 022
https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTnnHGVv4ax7w5ebSrnHxit3-r85pUnf61AvN4DZ8OHILNCQHLmvQ

PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014












I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pembangunan perikanan merupakan salah satu jenis kegiatan manusia yang banyak di usahakan oleh masyarakat Indonesia dalam rangka peningkatan produksi hasil perikanan yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan nelayan demi peningkatan taraf hidup yang lebih baik melalui manajemen serta penerapan teknologi yang tepat.
Negara Indonesia dikenal sebagai negara bahari dimana wilayah lautnya mencakup tiga perempat luas Indonesia atau 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, sedangkan luas daratannya hanya mencapai 1,9 juta km2. Wilayah laut yang sangat luas tersebut mengandung sumber daya alam perikanan yang sangat berlimpah, salah satunya adalah kepiting. Kepiting yang ada di Perairan Indo Pasifik lebih dari 234 jenis dan sebagian besar yaitu 124 jenis ada di Perairan Indonesia. Jenis kepiting yang populer sebagai bahan makanan dan mempunyai harga yang cukup mahal adalah Scylla serrat dan jenis lain yang tidak kalah penting di pasaran adalah Portunus pelagicus yang biasa disebut rajungan. Rajungan banyak terdapat diperairan Indonesia salah satunya di perairan Kabupaten Barru,  alat tangkap yang digunakan dalam menangkap rajungan yaitu bubu.
Bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa jebakan, dan bersifat pasif. Bubu sering juga disebut perangkap “traps” dan Penghadang “guidding barriers”. Bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa jebakan, dan bersifat pasif. Alat ini berbentuk kurungan seperti ruang tertutup seingga ikan tidak akan dapat keluar. Bubu merupakan alat tangkap pasif tradisional yang berupa perangkap ikan yang terbuat dari bambu, rotan, kawat, besi, jaring kayu dan plastik yang di buat sedemikian rupa sehingga ikan tidak dapat keluar . Prinsip dasar dari bubu adalah menjebak penglihatan ikan sehingga ikan tersebut terperangkap didalamnya, alat ini sering diberi nama fishing pots atau fishing basket. (bernt, 1948).
Bubu adalah perangkap yang memiliki satu atau dua pintu masuk dan dapat diangkat kebeberapa daerah penangkapan dengan mudah baik dengan menggunakan perahu atau tanpa perahu (rumajar, 2002). Menurut Martasuganda, (2005) teknologi penangkapan menggunakan bubu banyak dilakukan di negar – negara yang menegah maupaun maju. Untuk skala kecil dan menegah banyak dilakukan di perairan pantai, hampir seluruh negara yang masih belum maju perikanannya.  Sedangkan untuk negara dengan sistem perikanan yang maju, pengoprasiannya dilakukan di lepas pantai yang ditujukan untuk menangkap ikan-ikan dasar, kepiting, udang yang kedalamannya 20 m sampai dengan 700m. Bubu skala kecil ditjukan untuk menangkap kepiting, udang, keong, dan ikan dasar di perairan yang tidak begitu dalam.
Subani dan Barus (1989), menyatakan bahwa bentuk dari bubu bermacam-macam yaitu bubu berbentuk lipat, sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus), atau segi banyak, bulat setengah lingkaran dan lain-lainya. Secara garis besar bubu terdiri dari badan (body), mulut (funnl) atau ijeb dan pintu. Badan bubu berupa rongga tempat dimana ikan-ikan terkurung. Mulut bubu (funnel) berbentuk corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tapi tidak dapat keluar.
Menurut Subani dan Barus (1989), Bentuk bubu bervariasi. Ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segi tiga memanjang, atau segi banyak, bulat setengah lingkaranumumnya dan lain-lain. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu (bamboo’s splitting or-screen). Secara umum, bubu terdiri dari bagian-bagian badan (body), mulut (Funnel) atau ijeh, pintu.
Dalam operasionalnya, bubu terdiri dari tiga jenis, yaitu bubu dasar (Ground fish pots) dimana bubu ini di oprasikan di dasar perairan. Bubu apung (floating fish pots) yang pengoprasiannya dengan cara diapungkan. Bubu hanyut (Drifting fish pots) yang pengoprasiannya dengan cara dihanyutkan.
I.2. Tujuan dan kegunaan
Adapun tujuan dilakukannya praktik ini yaitu untuk mengetahui metoda pangoprasian alat tangkap bubu serta dapat mengetahui tingkat kelayakan usaha perikanan bubu. Sedangkan kegunaannya yaitu sebagai bahan informasi dan menambah pengetahuan mengnai cara pengoprasian alat tangkap bubu.


II. METODE PENGAMBILAN DATA
II.1. Waktu dan Tempat
Pengambilan data ini dilaksanakan pada bulan oktober sampai desember 2014 di Desa Pancana Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru Sulawesi Selatan.
II.2. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktik ini yaitu:
Tabel.1. Alat yang digunakan dalam prakte
No
Alat
Kegunaan
1
Kamera
Untuk mendokumentasikan gambar kapal, alat tangkap, mesin dan seluruh proses kegiatan penangkapan
2
Global Position System (GPS)
Untuk menentukan titik daerah penangkapan (Fishing Ground)
3
Alat tulis
Untuk mencatat hasil wawancara dengan nelayan

II.3. Metode Praktik
Metode praktik yang  digunakan dalam pelaksanaan praktik kerja lapang ini adalah sebagai berikut :
·         Observasi atau pengamatan langsung mengenai operasi penangkapan kepiting dengan menggunakan bubu (rakkang) di Desa Pancana Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru

·         Wawancara merupakan cara pendukung dalam mendapatkan data, yaitu dengan berdialog langsung nelayan bubu (rakkang) yang ada di Desa Pancan untuk menambah ilmu pengetahuan dengan menggunakan kuisioner untuk penulisan data-data yang diperlukan


III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III.1. Keadaan Lokasi
Kecamatan Tanete Rilau tepatnya di desa Pancana memiliki luas daerah 9,20 km2. Di kecamatan Tanete Rilau ini di dominasi oleh perempuan sejumlah 17485 orang dibandingkan dengan laki-laki hanya 15941 orang.  Ditinjau dari sektor kelautan dan perikanan  di kecamatan Tanete Rilau Untuk produksi perikanan tangkap pada tahun 2012 dan 2013 masing-masing sebesar 3397,3 ton dan 3612,17 ton, jumlah perahu/kapal penangkap ikan laut perahu tak bermotor sebanyak 71, motor tempel 158 dan kapal bermotor sebanyak 336 (Kabupaten Barru dalam Angka 2014).
Text Box: Husni Mubaraq
L231 11 022
Gambar.1. Lokasi Praktek

III.2. Komponen Alat Tangkap
1.    Nelayan
Nelayan yang ikut dalam pengoprasian alat tangkap bubu sejumlah satu orang nelayan saja, dimana ia memiliki peran ganda sebagai penarik bubu ke atas permukaan air serta ia juga yang mengemudikan perahu.
Gambar 2. Nelayan Bubu
2.    Kapal
Kapal yang digunakan saat praktik memiliki dimensi utama dengan panjang 9 m, lebar 1,35 m, tinggi 1,5 m dan bagian  kemudi kapal berada di tengah, kapal ini memiliki satu buah propeller yang terbuat dari timah dengan 3 buah daun.
Gambar 3. Kapal Bubu
3.    Mesin
Mesin yang digunakan oleh nelayan bubu yaitu mesin dengan merek jiandong yang memiliki kekuatan 12 pk, sekali melakukan oprasi penagkapan mesin ini dapat menghabiskan bahan bakar solar sebanyak 10 – 15 Liter per hari, mesin yang digunakan biasanya mengganti oli sekali dalam 2 bulan.
Gambar 4. Mesin Kapal

4.    Alat Bantu
Adapun alat bantu yang digunakan oleh nelayan bubu yaitu:
a.    Umpan
Umpan digunakan untuk mengarahkan target tangkapan mendekati bubu dan juga untuk menggiring target untuk masuk kedalam bubu.
Gambar 5. Umpan 

b.    Penjepit umpan
Pejepit umpan ini terbuat bambu alat ini berfungsi untuk menahan umpan agar tetap berada di posisi yang diinginkan.
Gambar 6. Penjepit Umpan


c.    Dayung
Ketika mesin kapal telah mati dan belum berada pas di daratan ataupun tempat alt tangkap disinalah dayung akan digunakan untuk membantu penempatan perahu.
d.    Wadah Penyimpanan Hasil Tangkapan
Wadah penyimpanan ini hasil tangkapan berupa sterofom digunakan untuk menyimpan hasil tangkapan yang telah mati agar tidak berserakan di atas kapal, hal ini juga mempermudah nelayan untuk mengangkat hasil tangkapan ke darat.
Gambar 7. Wadah Penyimpanan Hasil Tangkapan

e.    Pelampung Tanda
Pelampung tanda digunakan oleh nelayan untuk memberi tanda pada alat tangkap agar mereka dapat mengenali alat tangkapnya.
Gambar 8. Pelampung Tanda
III.3. Deskripsi Alat Tangkap
Rangka Alat tangkap bubu ini terbuat dari bambu memiliki ukuran tinggi 28 cm, lebar 42 cm memiliki mulut dengan lebar bukaan mulut 16 cm. Pada alat tangkap ini terdapat pemberat didalamnya, pemberat terbuat dari semen,  pemberat ini juga digunakan sebagai tempat penyangga penjepit umpan. Alat tangkap ini akan diganti ketika ada bagian rangka bubu yang patah atau ketika bubunya hilang saat dioprasikan, alat tankap ini diikatkan pada pelampung agar mudah terlihat jarak antara bubu dengan pelampung sekitar 20 – 30 meter. Jarak antar bubu sekitar 8 meter.
Gambar 9. Alat Tangkap Bubu
III.4. Metode Pengoprasian
Prinsip dasar dari bubu adalah mengsahakan ikan untuk masuk kedalam jaring tersebut, setelah dihadang seraya diajak memasuki bubu dengan menggunakan umpan, lalu setiap hari pada waktu – waktu tertentu jaring diangkat ataupun setelah di perhitungkan bahwa target tangkapan telah masuk kedalam jaring, kemudian bubu diangkat.
Adapun metode pengoprasian yang dilakukan oleh nelayan ketika melakukan praktik yaitu, sebelum kapal menuju daerah penangkapan pada umumnya nelayan melakukan persiapan terhadap segala perlengkapan untuk operasi penangkapan yang meliputi persiapan suku cadang, bahan bakar, pemasangan umpan pada pengait yang terbuat dari bambu dan lain – lain. Setelah itu pada pukul 16.15 WITA nelayan berangkat dari fishing base menuju fishing ground,lamanya perjalanan untuk menuju fishing ground memakan waktu sekitar 20 menit. Setelah tiba di fishing ground nelayan mengikatkan tali pelampung pada bubu, kemudian memasang umpan pada bubu lalu memasukkannya kedalam air. Setelah pemasangan alat tangkap selesai nalayan kembali ke fishing base.
Pada pukul 05.25 nelayan kembali menuju fishing ground untuk melakukan pengangkatan alat tangkap. Setibanya dilokasi nelayan mengarahkan kapal pada pelampung tanda, ketika sampai pada pelampung tanda nelayan menuju haluan untuk mengambil pelampung tanda lalu melepaskan ikatan penghubung  antara pelampung tanda dengan alat tangkap bubu, selanjutnya pelampung diletakkan diatas kapal kemudian nelayan melakukan proses penarikan alat tangkap untuk menaikkan bubu keatas kapal.
Ketika satu-persatu alat tangkap bubu di naikkan, bubu yang terdapat kepiting didalamnya nelayan akan mengeluarkan hasil  tangkapan dengan cara melonggarkan bagian atas bubu yang dimana pengait umpan dikatkan sehingga dengan mudah kepiting akan keluar. Kepiting yang tertangkap kemudian dimasukkan kealam gabus. Tetapi ketika bubu yang dinaikkan kosong, nelayan hanya akan mengeluarkan pengait umpan dari dalam bubu. Adapun bubu yang digunakan dalam proses penangkapan berjumlah 600 unit, setelah semua alat tangkap dinaikkan nelayan kembali menuju fishing base untuk menjual hasil tangkapannya.
III.5. Hasil Tangkapan
Adapun hasil tangkapan yang didapat pada alat tangkap bubu Kepiting yaitu rajungan, alat tangkap ini dioprasikan setiap hari, adapun harga dari rajungan ini yaitu Rp 50.000/kg. Alat tangkap ini sering dioprasikan pada daerah perairan yang berlumpur dan berpasir
Gambar 10. Kepiting Rajungan
Kingdom    : Animalia
Filum         : Arthropoda
Kelas         : Crustacea
Ordo          : Decapoda
Famili        : Portunidae
Genus       : Portunus
Species     : Portunus pelagicus

III.6.  Aspek Finansial
a)     Investasi
Investasi adalah seluruh biaya  yang dikeluarkan satu kali selama usaha proyek tersebut beroperasi untuk menghasilkan benefit (Irham, 2009). Adapun biaya investasi untuk usaha perikanan bubu dapat dilihat  pada tabel dibawah ini:
Tabel 2. Investasi alat tangkap Bubu
No
Alat Dan Bahan
Jumlah Fisik
Biaya/ Satuan (Rp)
Jumlah Biaya (Rp)
Umur Ekonomis (Tahun)
1
Kapal
1
17.000.000
17.000.000
25
2
Bubu
350
15.000
5.250.000
5
3
Mesin Penggerak
1
7.950.000
7.950.000
20
4
Tali
38
38.000
1.444.000
8
Total Biaya Investasi
31.640.000


Investasi dari alat tangkap Bubu Pada tabel 2 diatas menunjukkan bahwa investasi usaha perikanan bubu di Desa Pancana sebesar Rp 31.640.000 sampai alat tangkap tersebut bisa beroperasi dan menghasilkan hasil tangkapan.
b)     Modal Kerja
Dalam melakukan usaha penangkapan ikan selain modal kerja juga diperlukan biaya perawatan, atau biaya modal kerja  dan biaya tetap
Tabel 3. Modal kerja dan biaya tetap pada bubu

No

Komponen Biaya

Satuan
Jumlah Fisik
Jumlah Biaya/  Trip

I.   Biaya Operasional kerja per trip
1
Solar
Liter
10
75.000
2
Umpan
Box
1
175.000
Jumlah Biaya Per Trip
249.000


II. Biaya Tetap
1
Perawatan Kapal
Bulan
1
350.000
2
Perawatan Mesin
Bulan
1
50.000
3
Perawatan alat tangkap
Bulan
1
87.000
Total Biaya Tetap
487.000
Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa biaya yang dikeluarkan dalam usaha bubu terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya variable (variable cost). Biaya tetap meliputi biaya perawatan kapal, perawatan mesin, perawatan alat tangkap,. Sedangkan biaya variable meliputi biaya solar, dan Umpan.


Rounded Rectangle: Ikan dibeli oleh nelayan pengumpul 

Rounded Rectangle: Ikan dikeringkanRounded Rectangle: Ian aka dijual ke pasarIV.  PENUTUP
A.  Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktik kerja lapang ini yaitu alat tangkap bubu yang ada di Desa Pancana masih tergolong tradisional hal ini dapat dilihat dari model alat tangkap dan teknologi yang digunakan diperahu masih tergolong rendah. Pada umumnya bubu kepiting dioprasikan dengan menggunakan umpan, bubu dioperasikan dengan menggunakan sistem rawai.
Tahap pengoperasian bubu (rakkang) terdiri atas beberapa tahap yaitu tahap persiapan sebelum melakukan penangkapan, tahap penurunan alat tangkap (hauling), tahap perendaman alat tangkap (soaking time), dan tahap pengangkatan alat tangkap (hauling).
B. SARAN
Dalam pengoprasian bubu sebaiknya menggunakan alat bantu yang lebih modern guna mempermudah pencarian daerah penangkapan (fishing groung), hal ini diperlukan meningkatkan hasil tangkapan nelayan.


DAFTAR PUSTAKA

Iskandar, Dahri. 2011. Analisis Hasil Tangkapan Sampingan Bubu Yang Dioperasikan Di Perairan Karang  Kepulauan Seribu.


Martasuganda S. 2003. Bubu (Traps). Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Martasuganda Set al.  2004.  Teknologi Untuk Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Seri Alat Tangkap Ikan. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan.  Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. 157 hlm.

Monintja, D.R dan S. Martasuganda 1991. Teknologi Pemanfaatan Sumberdaya Hayati Laut. Diktat kuliah, Ilmu dan Teknologi Kelautan  Institut Pertanian Bogor. Bogor. 50 hal.

Sainsbury J C. 1996. Commercial Fishing Methods. An Introduction to Vessel and Gears. 3ed Edition. London: Fishing News Book.

Subani W, Barus HR.  1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indonesia.  Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.  248 hlm.
Yang Berbeda Pada Bubu Lipat Kepiting Bakau.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar