TEKNIK PENGOPRASIAN ALAT TANGKAP BUBU KEPITING
(RAKKANG) DI DESA PANCANA KECAMATAN
TANETE RILAU KABUPATEN BARRU
OLEH:
HUSNI MUBARAQ
L231 11 022

PROGRAM
STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pembangunan perikanan merupakan salah
satu jenis kegiatan manusia yang banyak di usahakan oleh masyarakat Indonesia
dalam rangka peningkatan produksi hasil perikanan yang diharapkan dapat
meningkatkan pendapatan nelayan demi peningkatan taraf hidup yang lebih baik
melalui manajemen serta penerapan teknologi yang tepat.
Negara Indonesia dikenal sebagai
negara bahari dimana wilayah lautnya mencakup tiga perempat luas Indonesia atau
5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, sedangkan luas daratannya
hanya mencapai 1,9 juta km2. Wilayah laut yang sangat luas tersebut mengandung
sumber daya alam perikanan yang sangat berlimpah, salah satunya adalah
kepiting. Kepiting yang ada di Perairan Indo Pasifik lebih dari 234 jenis dan
sebagian besar yaitu 124 jenis ada di Perairan Indonesia. Jenis kepiting yang
populer sebagai bahan makanan dan mempunyai harga yang cukup mahal adalah
Scylla serrat dan jenis lain yang tidak kalah penting di pasaran adalah
Portunus pelagicus yang biasa disebut rajungan. Rajungan banyak terdapat
diperairan Indonesia salah satunya di perairan Kabupaten Barru, alat tangkap yang digunakan dalam menangkap
rajungan yaitu bubu.
Bubu adalah alat tangkap
yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa jebakan, dan bersifat pasif.
Bubu sering juga disebut perangkap “traps” dan Penghadang “guidding barriers”.
Bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa
jebakan, dan bersifat pasif. Alat ini berbentuk kurungan seperti ruang tertutup
seingga ikan tidak akan dapat keluar. Bubu merupakan alat tangkap pasif
tradisional yang berupa perangkap ikan yang terbuat dari bambu, rotan, kawat,
besi, jaring kayu dan plastik yang di buat sedemikian rupa sehingga ikan tidak
dapat keluar . Prinsip dasar dari bubu adalah menjebak penglihatan ikan
sehingga ikan tersebut terperangkap didalamnya, alat ini sering diberi nama
fishing pots atau fishing basket. (bernt, 1948).
Bubu adalah perangkap yang
memiliki satu atau dua pintu masuk dan dapat diangkat kebeberapa daerah
penangkapan dengan mudah baik dengan menggunakan perahu atau tanpa perahu
(rumajar, 2002). Menurut Martasuganda, (2005) teknologi penangkapan menggunakan
bubu banyak dilakukan di negar – negara yang menegah maupaun maju. Untuk skala
kecil dan menegah banyak dilakukan di perairan pantai, hampir seluruh negara
yang masih belum maju perikanannya.
Sedangkan untuk negara dengan sistem perikanan yang maju,
pengoprasiannya dilakukan di lepas pantai yang ditujukan untuk menangkap
ikan-ikan dasar, kepiting, udang yang kedalamannya 20 m sampai dengan 700m.
Bubu skala kecil ditjukan untuk menangkap kepiting, udang, keong, dan ikan
dasar di perairan yang tidak begitu dalam.
Subani dan Barus (1989),
menyatakan bahwa bentuk dari bubu bermacam-macam yaitu bubu berbentuk lipat,
sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus),
atau segi banyak, bulat setengah lingkaran dan lain-lainya. Secara garis besar
bubu terdiri dari badan (body), mulut (funnl) atau ijeb dan pintu. Badan bubu
berupa rongga tempat dimana ikan-ikan terkurung. Mulut bubu (funnel) berbentuk
corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tapi tidak dapat keluar.
Menurut Subani dan Barus
(1989), Bentuk bubu bervariasi. Ada yang seperti sangkar (cages), silinder
(cylindrical), gendang, segi tiga memanjang, atau segi banyak, bulat setengah
lingkaranumumnya dan lain-lain. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu (bamboo’s
splitting or-screen). Secara umum, bubu terdiri dari bagian-bagian badan
(body), mulut (Funnel) atau ijeh, pintu.
Dalam operasionalnya, bubu
terdiri dari tiga jenis, yaitu bubu dasar (Ground fish pots) dimana bubu ini di
oprasikan di dasar perairan. Bubu apung (floating fish pots) yang
pengoprasiannya dengan cara diapungkan. Bubu hanyut (Drifting fish pots) yang
pengoprasiannya dengan cara dihanyutkan.
I.2. Tujuan dan kegunaan
Adapun tujuan dilakukannya
praktik ini yaitu untuk mengetahui metoda pangoprasian alat tangkap bubu serta
dapat mengetahui tingkat kelayakan usaha perikanan bubu. Sedangkan kegunaannya
yaitu sebagai bahan informasi dan menambah pengetahuan mengnai cara
pengoprasian alat tangkap bubu.
II. METODE PENGAMBILAN DATA
II.1. Waktu dan Tempat
Pengambilan data ini
dilaksanakan pada bulan oktober sampai desember 2014 di Desa Pancana Kecamatan
Tanete Rilau
Kabupaten Barru Sulawesi Selatan.
II.2. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang
digunakan dalam praktik ini yaitu:
Tabel.1.
Alat yang digunakan dalam prakte
|
No
|
Alat
|
Kegunaan
|
|
1
|
Kamera
|
Untuk mendokumentasikan gambar kapal, alat tangkap, mesin dan seluruh proses kegiatan penangkapan
|
|
2
|
Global Position System
(GPS)
|
Untuk
menentukan titik daerah penangkapan (Fishing Ground)
|
|
3
|
Alat tulis
|
Untuk
mencatat hasil wawancara dengan nelayan
|
II.3. Metode Praktik
Metode praktik yang digunakan dalam pelaksanaan praktik kerja lapang ini adalah sebagai berikut
:
·
Observasi atau pengamatan langsung mengenai operasi penangkapan
kepiting dengan menggunakan bubu (rakkang) di Desa Pancana Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru
·
Wawancara
merupakan cara pendukung dalam mendapatkan data, yaitu dengan
berdialog langsung
nelayan bubu (rakkang) yang ada di Desa
Pancan untuk menambah
ilmu pengetahuan dengan menggunakan kuisioner untuk penulisan data-data yang
diperlukan
III. HASIL
DAN PEMBAHASAN
III.1. Keadaan Lokasi
Kecamatan Tanete Rilau tepatnya di
desa Pancana memiliki luas daerah 9,20 km2. Di kecamatan Tanete
Rilau ini di dominasi oleh perempuan sejumlah 17485 orang dibandingkan dengan
laki-laki hanya 15941 orang. Ditinjau
dari sektor kelautan dan perikanan di
kecamatan Tanete Rilau Untuk produksi perikanan tangkap pada tahun 2012 dan
2013 masing-masing sebesar 3397,3 ton dan 3612,17 ton, jumlah perahu/kapal
penangkap ikan laut perahu tak bermotor sebanyak 71, motor tempel 158 dan kapal
bermotor sebanyak 336 (Kabupaten Barru
dalam Angka 2014).

Gambar.1. Lokasi Praktek
III.2. Komponen
Alat Tangkap
1.
Nelayan
Nelayan yang
ikut dalam pengoprasian alat
tangkap bubu sejumlah satu orang nelayan saja, dimana ia memiliki peran ganda
sebagai penarik bubu ke atas permukaan air serta ia juga yang mengemudikan
perahu.

Gambar 2. Nelayan Bubu
2.
Kapal
Kapal yang
digunakan saat praktik memiliki dimensi utama dengan panjang 9 m, lebar 1,35 m, tinggi 1,5 m dan bagian kemudi kapal berada di tengah, kapal ini
memiliki satu buah propeller yang terbuat dari timah dengan 3 buah daun.

Gambar 3. Kapal Bubu
3.
Mesin
Mesin yang
digunakan oleh nelayan bubu yaitu mesin dengan merek jiandong yang memiliki
kekuatan 12
pk, sekali melakukan oprasi penagkapan mesin ini dapat menghabiskan bahan bakar
solar sebanyak 10 – 15
Liter per hari, mesin yang digunakan biasanya mengganti oli sekali dalam 2
bulan.

Gambar 4. Mesin Kapal
4.
Alat
Bantu
Adapun alat bantu yang digunakan oleh
nelayan bubu yaitu:
a.
Umpan
Umpan
digunakan untuk mengarahkan target tangkapan mendekati bubu dan juga untuk
menggiring target untuk masuk kedalam bubu.

Gambar 5.
Umpan
b. Penjepit
umpan
Pejepit umpan ini terbuat bambu
alat ini berfungsi untuk menahan umpan agar tetap berada di posisi yang
diinginkan.

Gambar 6.
Penjepit Umpan
c.
Dayung
Ketika
mesin kapal telah mati dan belum berada pas di daratan ataupun tempat alt
tangkap disinalah dayung akan digunakan untuk membantu penempatan perahu.
d.
Wadah
Penyimpanan Hasil Tangkapan
Wadah
penyimpanan ini hasil tangkapan berupa sterofom
digunakan untuk menyimpan hasil tangkapan yang telah mati agar tidak berserakan
di atas kapal, hal ini juga mempermudah nelayan untuk mengangkat hasil
tangkapan ke darat.

Gambar 7.
Wadah Penyimpanan Hasil Tangkapan
e.
Pelampung
Tanda
Pelampung
tanda digunakan oleh nelayan untuk memberi tanda pada alat tangkap agar mereka
dapat mengenali alat tangkapnya.

Gambar 8.
Pelampung Tanda
III.3. Deskripsi Alat Tangkap
Rangka Alat
tangkap bubu ini terbuat dari bambu memiliki ukuran tinggi 28 cm, lebar 42 cm memiliki
mulut dengan lebar bukaan mulut 16 cm. Pada alat tangkap ini terdapat pemberat
didalamnya, pemberat terbuat dari semen,
pemberat ini juga digunakan sebagai tempat penyangga penjepit umpan.
Alat tangkap ini akan diganti ketika ada bagian rangka bubu yang patah atau
ketika bubunya hilang saat dioprasikan, alat tankap ini diikatkan pada
pelampung agar mudah terlihat jarak antara bubu dengan pelampung sekitar 20 –
30 meter. Jarak antar bubu sekitar 8 meter.


Gambar 9. Alat Tangkap Bubu
III.4. Metode Pengoprasian
Prinsip dasar dari bubu
adalah mengsahakan ikan untuk masuk kedalam jaring tersebut, setelah dihadang
seraya diajak memasuki bubu dengan menggunakan umpan, lalu setiap hari pada
waktu – waktu tertentu jaring diangkat ataupun setelah di perhitungkan bahwa
target tangkapan telah masuk kedalam jaring, kemudian bubu diangkat.
Adapun metode pengoprasian
yang dilakukan oleh nelayan ketika melakukan praktik yaitu, sebelum kapal
menuju daerah penangkapan pada umumnya nelayan melakukan persiapan terhadap
segala perlengkapan untuk operasi penangkapan yang meliputi persiapan suku
cadang, bahan bakar, pemasangan umpan pada pengait yang terbuat dari bambu dan
lain – lain. Setelah itu pada pukul 16.15 WITA nelayan berangkat dari fishing base menuju fishing ground,lamanya perjalanan untuk menuju fishing ground
memakan waktu sekitar 20 menit. Setelah tiba di fishing ground nelayan mengikatkan tali pelampung pada bubu,
kemudian memasang umpan pada bubu lalu memasukkannya kedalam air. Setelah
pemasangan alat tangkap selesai nalayan kembali ke fishing base.
Pada pukul 05.25 nelayan
kembali menuju fishing ground untuk
melakukan pengangkatan alat tangkap. Setibanya dilokasi nelayan mengarahkan
kapal pada pelampung tanda, ketika sampai pada pelampung tanda nelayan menuju
haluan untuk mengambil pelampung tanda lalu melepaskan ikatan penghubung antara pelampung tanda dengan alat tangkap
bubu, selanjutnya pelampung diletakkan diatas kapal kemudian nelayan melakukan
proses penarikan alat tangkap untuk menaikkan bubu keatas kapal.
Ketika satu-persatu alat
tangkap bubu di naikkan, bubu yang terdapat kepiting didalamnya nelayan akan
mengeluarkan hasil tangkapan dengan cara
melonggarkan bagian atas bubu yang dimana pengait umpan dikatkan sehingga
dengan mudah kepiting akan keluar. Kepiting yang tertangkap kemudian dimasukkan
kealam gabus. Tetapi ketika bubu yang dinaikkan kosong, nelayan hanya akan
mengeluarkan pengait umpan dari dalam bubu. Adapun bubu yang digunakan dalam
proses penangkapan berjumlah 600 unit, setelah semua alat tangkap dinaikkan
nelayan kembali menuju fishing base
untuk menjual hasil tangkapannya.
III.5. Hasil Tangkapan
Adapun hasil tangkapan
yang didapat pada alat tangkap bubu Kepiting yaitu rajungan, alat tangkap ini
dioprasikan setiap hari, adapun harga dari rajungan ini yaitu Rp 50.000/kg.
Alat tangkap ini sering dioprasikan pada daerah perairan yang berlumpur dan
berpasir

Gambar 10. Kepiting Rajungan
Kingdom : Animalia
Filum :
Arthropoda
Kelas :
Crustacea
Ordo :
Decapoda
Famili :
Portunidae
Genus :
Portunus
Species : Portunus pelagicus
III.6. Aspek
Finansial
a) Investasi
Investasi
adalah seluruh biaya yang dikeluarkan
satu kali selama usaha proyek tersebut beroperasi untuk menghasilkan benefit
(Irham, 2009). Adapun biaya investasi untuk usaha perikanan bubu dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2. Investasi alat tangkap Bubu
|
No
|
Alat Dan Bahan
|
Jumlah Fisik
|
Biaya/ Satuan (Rp)
|
Jumlah Biaya (Rp)
|
Umur
Ekonomis (Tahun)
|
|
1
|
Kapal
|
1
|
17.000.000
|
17.000.000
|
25
|
|
2
|
Bubu
|
350
|
15.000
|
5.250.000
|
5
|
|
3
|
Mesin Penggerak
|
1
|
7.950.000
|
7.950.000
|
20
|
|
4
|
Tali
|
38
|
38.000
|
1.444.000
|
8
|
|
Total Biaya Investasi
|
31.640.000
|
|
|||
Investasi
dari alat tangkap Bubu
Pada tabel 2 diatas menunjukkan bahwa investasi usaha
perikanan bubu
di Desa Pancana sebesar
Rp 31.640.000 sampai
alat tangkap tersebut bisa beroperasi dan menghasilkan hasil tangkapan.
b)
Modal
Kerja
Dalam melakukan usaha penangkapan ikan selain modal kerja juga
diperlukan biaya perawatan, atau
biaya modal kerja dan biaya tetap
Tabel
3. Modal kerja dan biaya tetap pada bubu
|
No
|
Komponen Biaya
|
Satuan
|
Jumlah Fisik
|
Jumlah Biaya/ Trip
|
|
I. Biaya Operasional kerja per trip
|
||||
|
1
|
Solar
|
Liter
|
10
|
75.000
|
|
2
|
Umpan
|
Box
|
1
|
175.000
|
|
Jumlah Biaya Per Trip
|
249.000
|
|||
|
II. Biaya Tetap
|
||||
|
1
|
Perawatan Kapal
|
Bulan
|
1
|
350.000
|
|
2
|
Perawatan Mesin
|
Bulan
|
1
|
50.000
|
|
3
|
Perawatan alat tangkap
|
Bulan
|
1
|
87.000
|
|
Total Biaya Tetap
|
487.000
|
|||
Dari tabel diatas dapat dijelaskan
bahwa biaya yang dikeluarkan dalam usaha bubu terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya variable (variable cost). Biaya tetap meliputi
biaya perawatan kapal, perawatan mesin, perawatan alat tangkap,. Sedangkan biaya variable meliputi biaya solar,
dan Umpan.

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat
diambil dari praktik kerja lapang ini yaitu alat tangkap bubu yang ada di Desa
Pancana masih tergolong tradisional hal ini dapat dilihat dari model alat
tangkap dan teknologi yang digunakan diperahu masih tergolong rendah. Pada
umumnya bubu kepiting dioprasikan dengan menggunakan umpan, bubu dioperasikan dengan menggunakan
sistem rawai.
Tahap pengoperasian bubu (rakkang) terdiri atas beberapa tahap
yaitu tahap persiapan sebelum melakukan penangkapan, tahap penurunan alat
tangkap (hauling), tahap perendaman
alat tangkap (soaking time), dan
tahap pengangkatan alat tangkap (hauling).
B. SARAN
Dalam
pengoprasian bubu sebaiknya menggunakan
alat bantu yang lebih modern guna
mempermudah pencarian daerah penangkapan (fishing
groung), hal ini diperlukan meningkatkan hasil tangkapan
nelayan.
DAFTAR PUSTAKA
Iskandar,
Dahri. 2011. Analisis Hasil Tangkapan
Sampingan Bubu Yang Dioperasikan Di Perairan
Karang Kepulauan Seribu.
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/saintek/article/viewFile/2071/1822 (Di akses tanggal 9 Desember 2014).
Martasuganda
S. 2003. Bubu (Traps). Bogor: Program
Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.
Martasuganda
Set al. 2004. Teknologi
Untuk Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Seri Alat Tangkap Ikan. Jakarta:
Departemen Kelautan dan Perikanan.
Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Direktorat
Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. 157 hlm.
Monintja, D.R
dan S. Martasuganda 1991. Teknologi
Pemanfaatan Sumberdaya Hayati Laut. Diktat kuliah, Ilmu dan Teknologi
Kelautan Institut Pertanian Bogor.
Bogor. 50 hal.
Sainsbury J C.
1996. Commercial Fishing Methods. An
Introduction to Vessel and Gears. 3ed Edition. London: Fishing News Book.
Subani W,
Barus HR. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indonesia. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Departemen Pertanian. 248
hlm.
Yang
Berbeda Pada Bubu Lipat Kepiting Bakau.
http://www.umbidharma.org/jipp/index.php/jipp/article/view/27/21 (Di akses tanggal 9 Desember 2014).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar